Fenomena Berdoa di Sosial Media (berdoa di facebook)

Rohani

Keberadaan social media terutama facebook  semakin meng “kudeta” hati para pengguna internet di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia, bahkan menurut  data dari Webershandwick, Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif, yang setiap harinya hampir 33 juta pengguna facebook membuka accounnya. Jumlah yang fantastis untuk sebuah situs pertemanan yang keberadaanya masih terbilang muda.

Saya, sebagai salah satu pengguna facebook merasa prihatin dengan perkembangan social media ini, yang justru perkembang menjadi media yang disalah-fungsikan. Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah menggunakan media ini untuk berdoa, Prihatin sekaligus heran, kenapa berdoa yang seharusnya arahnya vertical dan areanya adalah privat, justru diumbar di status. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa tujuanya? Pamer, mencari sensasi, atau mungkin memang berniat berdoa agar di “like” atau di “comment.”

Mohon pembaca menyimak ayat berikut :

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(QS: Al-A’raf Ayat: 55)

Dalam ayat tersebut sangat jelas menyebutkan berdoa kepada Allah SWT dengan merendah dan suara yang lembut. “Bagaimana jika doa kita diketik di facebook, apakah sudah memenuhi kedua syarat diatas”?

Bahkan bisa jadi berdoa di facebook masuk pada kategori yang ini “Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Mohon pembaca menyimak ayat berikut :

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
(QS: Al-A’raf Ayat: 56)

Jika kita mengambil penggalan kalimat diatas (berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut), adakah rasa takut ketika doa itu di tulis di sebuah status. Apakah ada rasa takutnya, ataukah rasa pamer atau rasa lainya sehingga orang melihat kita dan orang memperhatikan kita sebagai sosok yang religious.

Saya bukanlah ahli agama, apalagi ustad. Tapi saya mecoba menulis ini untuk renungan kita bersama, terima-kasih telah membaca.

didiet

No Comments